User Tools

Site Tools


cerita:22.Mei.2013

22 Mei 2013

Pada tanggal tersebut mungkin adalah hari yang sangat bersejarah dalah hidupmu. Kau akan segera melangsungkan pernikahanmu yang pertama kalinya dalam hidupmu. Tentu saja tak akan terlewatkan begitu saja.

Sejak beberapa hari yang lalu, aku sempat mengonsep dalam angan-anganku sebuah kalimat yang akan kutuliskan dalam status update facebookku. Aku tau ini tak akan banyak bermakna untukku, atau untuk siapa pun. Namun setidaknya aku bisa mengungkapkan apa yang ingin kuungkapkan. Bukankah kau pernah mengatakan kalau aku bebas menuliskan apa pun dan di mana pun? Aku yakin kau masih ingat itu.

Kata Kunci

Kira-kira bunyinya akan begini :

  Aku teringat di minggu kedua kita bertemu, dan kau pernah mengatakan kalau
  kau tak pernah mau dekat anak yang masih sekolah. Dengan jelas kau 
  mengutarakan alasannya `ora ono duite`. Aku pikir saat ini aku adalah 
  `anak sekolah`. Mungkin kedua frase itu yang akan menjadi kata kunci dengan
  huruf tebal jika aku buat menjadi sebuah tulisan.

(Oh, boy! rasanya bentuk kalimatnya bukan seperti ini…. hilang sudah, aku lupa menulisnya.)

Aku tak tau, kau mengatakannya padaku secara ceroboh atau sengaja. Namun yang pasti aku telah mendengarnya. Itu menjadi titik balik yang sempurna bagi sebuah perjalanan yang tak akan pernah terulang.

Tanya Jawab Sendiri

Ketika aku di berada di suatu tempat, tiba-tiba tulisan ini keluar :

P : Jika memang dia temanmu, kenapa kau tak membantunya? mendampinginya, hingga akhir acara?
J : Tidak, dan tidak akan pernah. Itu sama saja dengan bunuh diri. Ketika aku mengatakannya, aku sadar. Dan aku tau, itu tak akan merubah apapun.

P : Jika dia ada di hadapanmu, apa yang ingin kau katakan?
J : Oke, baiklah. Aku akan mengatakan : "Wahai sahabatku tercinta, aku tahu kita pernah memiliki rasa yang sama. Kita pernah memiliki cerita yang sama. Tapi harus kita akui bahwa jalan hidup kita berbeda. Kita memang punya ideologi yang sama, tapi prinsip dan tujuan hidup kita berbeda. Kuharap kau dapat menemukan kesuksesan, seperti yang kau impikan."

P : Jika saudara kecilnya ada di hadapanmu, apa yang ingin kau katakan?
J : Well, jika itu yang terjadi, aku ingin mengatakan : "Aku tahu aku bukan yang terbaik untuk saudaramu. Aku pun menghentikan langkahku untuk (meraih saudaramu) itu. Aku tak benar-benar yakin apa kau yang mencoba menjauhkannya dariku, tapi aku tau itu sudah terjadi. Aku akui, meskipun kau lebih muda dariku, tapi kau punya kepandaian yang jauh di atasku. Aku pun sadar, kau punya seribu kata untuk merendahkanku (mencaci, atau memakiku: meski kau tak pernah mengatakannya di hadapanku). Dan aku pun punya seribu kata untuk memujimu karena kepandaianmu. Teruskanlah perjuanganmu, teruskanlah hidupmu. Tapi satu permintaanku : 'Jangan pernah pedulikan aku, apapun kondisiku'."

Facebook Status Update

Sedangkan kalimat yang pernah ada dalam angan-anganku ternyata adalah sebagai berikut :

  No offense, tetapi beberapa orang temanku mengejekku dengan mengatakan :
  "Makanya, cari cewe itu yang istiqomah, jangan yang mahmudah," so what?!!
  
  Apapun maknanya, itu tak akan mengubah apapun. Aku tahu teman-temanku yang
  menagatakan demikian adalah karena peduli denganku, atau bahkan mungkin 
  meskipun sebaliknya.

Rencana Kado

Oh ya, aku memang sudah memiliki rencana untuk membuat sebuah kado. Dan aku juga sudah membuat sebuah pengantar untuknya. Aku tak mengisinya dengan apa yang sudah pernah aku perbincangkan dengannya. Melainkan apa yang sudah tak lagi aku perlukan. Apapun isinya, aku hanya ingin mengungkapkan kata-kata terakhirku di situ. Aku membuatnya sependek mungkin. Orang akan bosan membaca tulisan yang panjang lebar.

Samsul Ma'arif 2013/05/21 12:08

cerita/22.Mei.2013.txt · Terakhir diubah: 21/05/2013 14:17 oleh samsul