User Tools

Site Tools


cerita:Hari-hari.Lebaran

Hari-hari Lebaran

Published on Wednesday, 22 August 2012 11:39
Written by Samsul Ma'arif

Ini hanyalah catatan kecil, tak akan menjadi catatan yang bersejarah. Lagipula tak akan ada yang akan peduli dengan semua ini.

Hari Pertama

Seperti hari-hari lebaran tahun-tahun sebelumnya, kegiatan yang dilakukan seolah hanyalah kegiatan rutinan tahunan. Sholat idul fitri, kemudian keliling kampung untuk bersilaturahmi ke setiap rumah-rumah tetangga. Di hari pertama ini aku dan adikku menyempatkan ke rumah Rifngatul Mahmudah (tak perlu kujelaskan siapa dia). Lalu tak ada lagi yang kulakukan.

Hari Kedua

Tak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya, hari kedua kami ke Rumah Simbah Sidareja. Pun tak ada yang istimewa dari hal ini kecuali kali ini kami lengkap sekeluarga. Pada hari ini aku menyempatkan ke rumah temanku di Cikalong yaitu Slamet Wagiyanto dan ke Desa Kunci Sidareja yaitu Tukimin. Kebetulan keduanya sedang berada di rumah.

Hari Ketiga

Di hari yang ketiga tak ada yang kulakukan kecuali tinggal di rumah dan berdiam diri. Tapi pada hari ini aku cukup senang karena ternyata selama berada di rumah aku lebih fokus untuk belajar menggunakan Lazarus atau lebih tepatnya aku bisa belajar membuat program dengan menggunakan Lazarus.

Hari Keempat

Selama hari ketiga dan keempat ini, tak ada yang kulakukan kecuali di rumah saja. Aku berencana keluar ke rumah mantan bos, ke rumah temen-temen, tapi ternyata itu hanyalah rencana belaka. Hanya saja hari ini aku menyempatkan untuk menelpon Rifngatul Mahmudah yang pada akhirnya aku memutuskan untuk menulis catatan ini.

Sungguh terkejut aku ketika aku mendengar kalau dia akan menceritakan hal yang menyedihkan itu nanti ketika kami bertemu. Dia memang tidak mengatakannya secara langsung kepadaku, tapi dia memberiku kata kunci yang membuat aku membuat semacam kesimpulan sementara : kalau dia akan memutuskanku. Pada akhirnya aku berpikir, kalau benar dia akan memutuskanku aku juga akan memutuskan sekolahku. Kupikir itu keputusan sementaraku. Aku tak peduli itu baik atau tidak, tapi kurasa aku pun tak lagi peduli pada diriku sendiri. Tak ada gunanya pula.

Aku tidak tahu apakah orang lain memandangku dengan dari sisi negatif atau positif. Tapi setahuku orang lain akan cenderung memandangku dari sisi negatif, seperti yang sering aku dengarkan ketika orang lain mengatakan tentang orang lain. Jarang sekali ada orang yang menceritakan orang lain dari sisi positifnya. Kalau pun ada, dia tak akan pernah melepaskan menceritakan sisi negatifnya. Toh orang lain selalu memandang seperti itu. Aku juga tak akan peduli dengan apa yang akan aku dengarkan nantinya.

Masih hari keempat, ternyata sahabatku datang ke rumahku di siang hari, tepatnya ketka waktu sholat duhur hampir habis. Ya, M. Qoim M., kawanku yang satu ini datang bersama temannya dari pondok pesantren. Dengan naik motor, akhirnya aku mengikutinya, ke luar rumah. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah rumah teman kami pula, Kacih Isdiyanti yang rumahnya berada di belakang SMP Negeri 1 Gandrungmangu. Perjalanan berlanjut ke rumah, Qoim, lalu ke rumah Nur Widodo, ke warnet mantan bos, ke rumah orang tua mantan bos (Kamad MTs Ma'arif NU 01 Gandrungmangu) Rochmat, A.Md. Lalu perjalanan berkahir di tempat kerjaku yang terakhir, yaitu di Bantarsari. Pulang malam hari dengan berkendara motor rupanya adalah pengalamanku yang pertama. Kalau saja Qoim datang ke rumahku dengan bersepeda, mungkin aku juga akan keluar bersepeda. Itu yang hampir di setiap perhentian aku katakan. Apesnya, sekitar satu kilometer dari rumah lampu depan motor padam. Aku tabok-tabok nyala, tapi selanjutnya sudah tidak mau menyala lagi (aku tahu bahasanya katrok).

Hari Kelima

Kini sudah menginjak hari kelima. Pagi ini aku dikejutkan dengan bunyi telepon yang mengisyaratkan ada pesan singkat di ponsel smartku. Ada yang meminta untuk mengaktifkan kartu XLku yang memang sejak semalam baterainya sudah habis dan belum sempat aku mengecasnya. :D Katanya ada yang ingin bicara (karena kebetulan bukan aku yang membaca pesan itu). Kemudian aku meminta iiq adikku untuk mengecas ponsel nokiaku. Belum sempat menyala, pesan kembali masuk ke ponsel iiq yang isinya memintaku untk mengaktifkan ponsel nokia-XL-ku. Kemudian aku meminta iiq untuk mengatakan kalau ponselku sedang dicas.

Aku hampir tidak percaya aku akan mendengarkan dua berita sekaligus, ya, berita baik dan berita buruk. Berita baiknya ada seseorang yang akan datang ke rumahku, berita burkunya dia akan datang untuk menceritakan/mengatakan berita buruk. Aku tahu, ini kedengarannya konyol. Aku pun hampir tidak percaya ini. Dia mengatakan seolah semuanya akan berakhir…. [bersambung]

cerita/Hari-hari.Lebaran.txt · Terakhir diubah: 19/05/2013 15:39 oleh samsul