User Tools

Site Tools


cerita:Sebuah.Pengantar.Kado

Sebuah Pengantar

untuk Rifngatul Mahmudah, sahabatku tercinta.

Pada dasarnya aku tak peduli siapa yang membaca tulisan ini. Hanya bermaksud menjadikan tulisan ini pengantar atas apa yang ada di hadapanmu sekarang. Aku tak bermaksud menyakiti hati siapa pun. Aku juga tak bermaksud mengganggu…. Jika kau tak ingin menerimanya sebagai kado pernikahan, anggap saja ini adalah kado ulang tahunmu yang jatuh pada 18 Mei lalu. Maaf, mungkin sudah terlambat. Rifngatul Mahmudah

Tentu kau masih ingat dengan benda-benda ini. Kain sorban merah muda, shal putih-hitam, dan yang terakhir sebuah obat. Oh, ya. Satu lagi, sang pembungkus yang bertuliskan sona. Terima kasih telah meminjamkan untukku. Aku merasa tak lagi relevan menyimpannya. Tentang obat mata itu, yang kau baca dengan ejaan kitrol meskipun ternyata ketika aku memeriksanya tertulis xitrol. Aku membelinya di hari-hari terakhir aku kehilangan pekerjaanku (yang ternyata menandakan akan kehilangan segalanya). Aku membelinya dengan satu alasan, semoga kelak bermanfaat. Sebab itulah aku harus menyerahkannya untukmu.

Aku tak ingin menuliskan panjang lebar di sini. Kau bisa baca bloggku jika kau mau. Meski aku tak tahu apakah ini adalah hubungan sebab akibat atau bukan.

Aku hanya punya satu permintaan yang HARUS kau kabulkan : 'Jangan pernah lagi memanggilku adik (atau yang semakna dengannya)'. Aku punya seribu alasan atas permintaan ini. Tak perlu kutuliskan di sini.

Jangan bercanda yang serius, jangan serius yang bercanda!

Samsul Ma'arif 2013/05/19 16:59

cerita/Sebuah.Pengantar.Kado.txt · Terakhir diubah: 20/05/2013 10:51 oleh samsul