User Tools

Site Tools


cerita:The.End

The End

Published on Thursday, 23 August 2012 14:09
Written by Samsul Ma'arif

Aku tak tahu judul apa yang lebih tepat untuk menggambarkannya. Tapi kurasa The End telah menggambarkan lebih lengkap dan lebih mendalam. Aku hanya hampir tak percaya ini terjadi padaku. Aku tak tebiasa merasa sakit hati. Aku tak tebiasa putus cinta. Aku tak terbiasa untuk merasa kecewe seperti ini. Kau tentu tahu bagaimana rasanya itu. Dan tentu saja aku merasa terkejut. She end it so easly. Dia mengakhiri ini dengan begitu mudahnya.

Kalau saja yang namanya cinta itu adalah sakit hati, tentu aku tak pernah ingin jatuh cinta. Setiap orang pun tak pernah ingin merasa sakit hati karena setiap orang pun juga tak pernah ingin merasa jatuh cinta. Dia sudah menasehatiku banyak hal dengan segala keilmuannya. Ketika kau membaca ini, mungkin kau mengira-ngira. Ya, ini adalah kata-kata yang keluar dari pikiran orang yang sedang patah hati, sakit hati, dan semacamnya. Aku hanya tak tahu bagaimana menggambarkannya, tapi kurasa aku sudah mengungkapkannya lebih dulu.

Aku tahu, mungkin hampir semua orang pernah mengalaminya. Tak terkecuali aku. Kali ini mungkin jadi giliranku. Tapi, kenapa aku? Baiklah, aku bisa menerima ini. Tapi aku tak pernah tahu apa yang sebaiknya kulakukan. Di setiap posisi, aku selalu punya teman yang dapat menasehatiku. Namun, tatkala aku tak memiliki seorang teman pun. Bagaimana menurutmu?

Aku bahkan hampir tak percaya kini aku berada di atas makam mbahku. Aku berlari dengan kendaraan bermotor ketika sampai di rumah setelah sebelumnya aku mendengar pernyataan itu di rumahnya. Dengan sedikit rasa menyesal mengapa aku tidak dari kemarin-kemarin aku ke makam mbah. Tapi pada akhirnya aku menyadari : semuanya sudah berlalu. Kini aku tinggal menjalani sisa-sisa semangat hidupku yang sebenarnya aku sudah tak pernah punya sisa semangat.

Aku sama sekali belum pernah menggambarkan kejadian yang sebenarnya. Aku hanya menggambarkan (baca: menuliskan) apa yang ada dalam pikiranku. Did i say pikiranku? Kenapa aku lebih sering menggunakan kata pikiranku ketimbang hatiku? Kurasa karena itu hal yang termudah untuk aku tuliskan. Aku mungkin tidak akan pernah menggambarkan kejadian yang sebenarnya. Karena aku tahu, aku sangat payah dalam hal ini.

Kau tahu apa yang dia katakan padaku? Dia bilang, sebenarnya dia sangat sayang padaku, dan juga sangat bersimpati padaku. Tapi tahukah kau apa yang aku pikirkan ketika aku mendengarkannya. Aku hanya bisa menyimpulkan kalau ternyata dia tidak menyayangiku. Dia hanya bersimpati padaku. Dan kau menganggap pendapatku salah? Terserah. Kau pun tahu aku tak pernah peduli orang lain menyalahkan pemikiranku. Toh apa yang mereka pedulikan dari menyalahkan pemikiranku? Ya hanya menyalahkanku.

Hari ini aku benar-benar merasakan yang namanya sakit hati. Hanya berselang beberapa menit ketika aku mulai merasakannya, aku telah menuliskan berbagai paragraf dalam catatan ini. Aku tidak benar-benar sepenuhnya terkejut ketika baru mendengarnya. Tapi ternyata aku benar-benar terkejut ketika kudengar ternyata ada orang lain yang akan melamarnya. Jika saja catatan ini dibuka untuk dikomentari, mungkin akan ada komentar-komentar yang negatif maupun yang positif. Tapi kurasa itu bukanlah hal yang perlu.

Aku tak pernah tahu bagaimana akhir dari kisah hidupku. Tapi aku selalu berusaha untuk tetap membuat hidupku terasa manis. Kau tahu caranya? Ya, bergembiralah. Bergembiralah disaat kau tidak gembira. bergembiralah disaat kau tak menemukan apa yang kau cari. Bergembiralah disaat kau …. [aku tak tahu apa yang akan kutuliskan selanjutnya]. Ini konyol, entah dapat dari mana aku tulisan ini. Mungkin begitu saja keluar dari kepalaku, lalu tangan yang penurut ini begitu saja menuliskannya.

cerita/The.End.txt · Terakhir diubah: 19/05/2013 16:20 oleh samsul