User Tools

Site Tools


cerita:antisosial

Anti Sosial

Ketika aku menulis ini, aku benar-benar ingin menuliskannya. Aku nampak sangat tidak berbakat menulis. Aku masih belum dapat mengontrol diri sendiri. Aku, entahlah. Rasanya konyol. Aku tumbuh menjadi orang yang anti sosial. Kehidupanku, dan apapun yang aku lakukan terasa selalu berbeda dengan orang lain. Aku merasa selalu paling aneh. Paling tidak disukai oleh lingkunganku. Iya, aku tak pernah tau apa yang orang lain lihat dariku, aku merasa selalu seperti ini.

Masa Awal

Ketika aku menuliskan judul bagian ini, aku sebenarnya tidak tahu apa bagian ini penting. Karena untuk menentukan isinya di kemudian waktu, yaitu saat aku menuliskannya aku tak tau mulai dari mana. "Masa Awal" yang dimaksud di sini adalah masa awal aku menjadi manusia yang sesuai dengan judul tulisan ini : "Anti Sosial". Sedangkan bagian berikutnya adalah "Masa Sekolah Dasar" yang tentu saja akan menjelaskan bagaimana aktifitas sosialku pada masa itu.

Okelah, terlepas dari bagaimana bagian ini ditulis, selebihnya akan dijelaskan di bagian yang lain. Di bagian ini akan aku tuliskan saja masa-masa ketika aku belum memasuki masa sekolah. Dimulai ketika aku di perantauan, ya, di Sulawesi Selatan. Kami sekeluarga pergi transmigrasi ke sana pada 1995.

Pergaulanku dengan teman-teman terasa biasa sebagaimana anak-anak kecil kebanyakan. Tak ada yang terasa ganjil saat itu. Hanya saja, hidup di negeri orang memang menyisakan banyak cerita unik yang belum pernah aku tuliskan. Cerita tentang sungai, tentang ladang, tentang rumah kontrakan dan apa saja yang pernah aku lakukan di sana, sendiri maupun bersama teman-temanku yang lain. Banyak juga cerita tentang kenakalan kecilku dengan anak sahabat ibuku. Juga kekasaranku dengan anak tetangga. Semua itu telah berlalu, dan meninggalkan cerita yang hanya terngiang di kepala yang lambat laun jika aku tak pernah menuliskannya akan hilang begitu saja.

Masa Sekolah Dasar

Pada masa sekolah dasar, aku melalui banyak cerita. Aku bertemu banyak orang dengan berbagai suku, agama, ras, dan tempat yang berbeda-beda. Karena pada masa itu aku berpindah-pindah tempat tinggal. Mengikuti orang tua yang dulu kami sekeluarga transmigrasi ke Sulawesi Selatan, bekerja di perkebunan kelapa sawit. Di sana aku mengalami perpindahan sekolah sekali. Dari Margolembo ke Tomoni. Lalu aku dan adikku (Rosidin) pulang ke kampung halaman, tinggal bersama simbah di Sidareja. Ketika Ayah dan Ibu pulang dari Sulawesi setahun kemudian, aku ikut pindah ke Muktisari.

Di Margolembo

Di Tomoni

Di Sidareja

Di Muktisari

Masa Sekolah Menengah Pertama

Masa Sekolah Menengah Atas

Masa Sekarang

cerita/antisosial.txt · Terakhir diubah: 29/08/2013 15:46 oleh samsul