Daftar isi

Berkunjung ke Desa Durian

Banyumas - Merupakan pusat budidaya durian Desa Alasmalang mengadakan acara Juguran Pesta Durian Alasmalang, Kemranjen - Banyumas. Diselenggarakan selama 2 hari yaitu pada tanggal 8 - 9 Maret 2014 dengan mengundang rekan-rekan media online dari berbagai penjuru negeri di antaranya dari Ponorogo, Malang, Yogyakarta, Cilacap, dan Banyumas itu sendiri. Panen durian di desa tersebut sendiri berlangsung mulai Januari hingga Maret. Setiap musim durian, di sepanjang jalan desa ini, terhampar lapak pedagang durian.

Acara ini juga dimeriahkan dengan pementasan kesenian lokal dari Desa Alasmalang, Alegro. Kesenian musik yang terdiri dari kentongan dan angklung ini alat musiknya kebanyakan terbuat dari bambu, dimainkan oleh sekitar 14 orang.

Estiko Aji Saputro, ketua panitia juguran dalam sambutannya mengatakan acara tersebut bertujuan untuk memperkenalkan potensi desa Alasmalang, yang selain terkenal dengan duriannya. Peserta juga akan belajar menyambung bibit durian. Selain itu ada pula wisata ke Curug Goa yang berada di batas Desa Alasmalang dan Karangsalam.

“Membantu mempromosikan desa alasmalang tidak hanya dari segi promosi durian tapi juga dari segi wisata dan makanan-makanan hasil olahan durian.” lanjut Estiko.

Penyambungan Bibit Durian

Bibit durian kromo banyumas merupakan hasil okulasi antara bibit lokal dengan dengan entres (pucuk pohon yang telah berbuah) yang berusia kira-kira 25 tahun. Cara menyambungnya, bibit lokal (seling) dipotong, dengan ketinggian sekilan. Kemudian disambungkan dengan entres dengan cara diikat.

Bagian atas seling dipotong dan dibelah, sedangkan bagian ujung bawah entres yang akan disambungkan dibuat lancip, diikat dengan plastik bening yang telah di suir-suir (belah). Selanjutnya dapat dimasukkan dalam srumbung, dan Setelah sekitar 10-20 hari dapat dikeluarkan untuk dipasarkan.

Harga seling yang belum disambung sekitar Rp 1.000,- sedangkan kalau sudah keluar dari dalam srumbung harganya akan naik menjadi Rp 3.000,-. Namun untuk mempekerjakan, satu pohon akan dihargai Rp 1.000,- jikalau nanti keluar srumbung bibit pohon durian masih hidup.

Harga bibit pohon sendiri bervariasi, tergantung tinggi dan ukuran pohon. Kisarannya kalau yang telah mencapai 1 meter bisa mencapai ratusan ribu.

“Enaknya nyambung malam, kalau siang kena panas dikhawatirkan mati.” ujar salah seorang petani. Jika kita menanam bibit dengan tinggi 1 meter, dalam kurun waktu 5 tahun durian telah dapat berbuah.

Keunggulan dari durian kromo banyumas hasil penyambungan (stek) ini antara lain : 1) Ukuran buah lebih besar, 2) Biji kecil, 3) Daging lebih tebal, 4) Pohon tidak terlalu tinggi, sehingga petani dapat menanam di dalam pot.

Nama Kromo Banyumas sendiri menurut Mbah Kromo, awalnya terdapat 3 nama yaitu Kromo Oren, Kromo Kemranjen, dan Kromo Banyumas. “Jadi demi mengangkat nama Banyumas, saya memilih nama Banyumas.” ujar penemu Durian Kromo Banyumas tersebut.

Hasil Olahan Durian

Selain menjual durian sebagai produk utamanya, para petani Alasmalang juga mengembangkan kuliner hasil olahan durian. Beberapa di antaranya yang disuguhkan kepada peserta Juguran Pesta Durian tersebut antara lain : Jus Durian, dan Oblang.

Jus yang diberi brand “Idol Juice” terbuat dari buah durian murni dan tanpa bahan pengawet. Sedangkan Oblang merupakan nasi ketan yang dibalut saus durian. Warna kecoklatan pada oblang merupakan campuran gula merah dan sedikit garam.

Jalil, Kepala Desa Alasmalang berharap kegiatan ini dapat menjadi motor kemajuan Alasmalang. “Durian jangan dijual durian saja, dikemas untuk menambah nilai durian menjadi produk olahan, menjadi kuliner khas Alasmalang.” ungkapnya dalam sebuah kesempatan.

Wisata Curug Goa

Curug Goa yang terletak di perbatasan Desa Alasmalang dan Desa Karangsalam ini jaraknya sekitar 1,5 km dari lokasi Juguran. Peserta menuju lokasi dengan menaiki motor sejauh 1 km, kemudian motor dititipkan ke rumah warga.

Karakteristik Curug Goa bertingkat dua, memiliki ketinggian sekitar 15 meter. Pada tingkat pertama tingginya sekitar 10 meter, sedangkan tingkat kedua 5 meter. Aliran air pada tingkat kedua nampak lebih deras dan airnya langsung jatuh pada dasar curug yang menyerupai kolam.

Kalau menurut saya pribadi, jika potensi Curug Goa hendak dikembangkan menjadi objek wisata mungkin sebaiknya perlu dibangun infrastruktur pendukungnya agar memudahkan pengunjung untuk menuju langsung ke lokasi Curug.[Samsul Ma'arif/2014]