Merajut Kandi Menyambut Panen

Yanti sedang merajut/menjahit kandiMuktisari, Gandrung - Tenda merupakan salah satu alat yang diperlukan petani untuk menggelar maupun menjemur hasil panennya, terutama ketika panen tiba. Yanti (33) memanfaatkan kesempatan ini untuk berkreasi membuat tenda.

Berbekal pengalamannya kursus menjahit di sebuah lembaga kursus di Wangon, Yanti mulai melayani permintaan para petani merajut kandi menjadi sebuah tenda yang berkualitas. Tenda buatannya dirajut dengan mesin jahit pinjaman dari pemdes setempat. Namun ternyata mesin tersebut tak dapat langsung digunakan. Wanita yang tinggal di Rt.08/Rw.02, Dusun Bendagede, Desa Muktisari ini harus membeli dinamo seharga Rp 125.000,- dan sebuah papan seharga Rp 50.000,- agar mesin tersebut dapat dipergunakan.

Satu buah tenda berukuran 20 kandi bulog 15 kg dipatoknya seharga Rp 20.000,-. Sedangkan yang berukuran 16 kandi harganya lebih murah. Dalam sehari wanita yang juga membuka warung di rumahnya ini dapat memroduksi satu buah tenda.

Kandi sebagai bahan utama didapatkannya dari tempat penggilingan padi pak Tunjang di Dusun Muktisari dengan cara hutang. “Kandinya belum saya bayar, paling harganya Rp 500,- per buah.” katanya pada Selasa (11/4).

Menurutnya dibandingkan dengan menjahit tenda lebih mudah menjahit baju, uangnya pun lebih mudah. Tapi kalau menjahit baju harus membuat pola terlebih dulu. “Membuat tenda juga mudah karena tak perlu membuat pola, tapi pada tahap akhir memang lebih berat. Apalagi kalau kandinya lebih tebal.” ungkap wanita yang pernah bekerja di perusahaan konveksi di Jakarta ini.

Yanti melanjutkan, dia sengaja menjahit di depan rumahnya. Selain udaranya sejuk juga sebagai ajang promosi, karena para petani yang melintas di depan rumahnya akan mudah melihat aktifitasnya.[Samsul Ma'arif/2014]