Kalau kau pernah membaca tulisanku di tempat yang lain atau di blog ini yang berjudul Sisi Negatif, itu sama sekali tidak akan ada hubungannya dengan tulisan ini. Meskipun keduanya memiliki judul yang berlawanan makna.
Dari apa yang telah aku alami, setidaknya ini adalah pengalaman yang tak akan terlupakan. Kali ini aku akan menulisnya dengan perasaan yang sudah tenang. Aku memiliki seorang sahabat kecil, dia adalah temanku sejak kecil, sejak kami berada di perantauan, di Sulawesi Selatan. Aku merasa telah jatuh cinta padanya, bukan sejak pandangan pertama, namun aku sendiri tak pernah mengerti sejak kapan perasaan ini telah ada dalam hatiku.
Sejujurnya, aku tidak ingin menceritakan ulang ini dengan begitu panjang lebar. Aku ingin fokus pada Sisi Positif dari apa yang telah aku alami. Singkat cerita, kami dipertemukan kembali setelah sekian tahun kami tidak bertemu. Tanpa kuduga, dia memiliki perasaan yang sama denganku. Kami pun mulai berhubungan, berkomunikasi, dan berakrab-akraban.
Tanpa kuduga, pada lebaran kelima dia mengatakan sesuatu padaku, bahwa dia akan dilamar oleh orang yang baru dikenalnya. Sungguh terkejutnya aku. Ternyata dia memilih menerima lamaran orang yang baru dikenalnya. Pikiranku kacau tak karuan. Mungkin ini yang ada dalam hatiku : perasaan marah, benci, ingin berontak, dan perasaan kacau yang lain bercampur menjadi satu. Pada hari itu juga aku pergi ke makam mbahku di Sidareja, dengan sedikit menyesal karena pada bulan puasa maupun pada bulan syawal aku tidak nyekar. Di sana aku sempat menulis beberapa paragraf yang dapat kau baca di bloggu yang berjudul Semua Tentang Uang. Aku tidak pernah tau apakah judul itu sesuai dengan isinya atau tidak, tapi setidaknya itulah yang ada dalam pikiranku ketika dia melepaskanku setelah aku kehilangan pekerjaanku.
Dari semua itu, di dasar hatiku sebenarnya aku telah berpikir bahwa lebih banyak dampak positif ketimbang negatifnya tentang semua ini. Di antaranya sebagai berikut :
enak. Itu bukan yang ibuku sukai, keluargaku lebih senang masih bisa makan, makan apa saja seadanya demi menyambung hidup. Betapapun aku mencintainya, pada akhirnya aku harus belajar untuk bisa melepaskannya. Aku bisa memahami apa yang sebenarnya dia inginkan adalah seorang suami yang benar-benar sudah sukses, yang telah memiliki penghasilan yang jelas, yang juga tentunya memiliki pekerjaan yang jelas. Sedangkan aku? Aku bahkan baru saja kehilangan pekerjaanku.pacaran. Tapi dia mengatakannya, bahwa apa yang kami lakukan adalah sedang berpacaran. Pada dasarnya aku tak peduli itu disebut apa, aku merasa cocok dengannya (pada saat itu), dan aku ingin menjadi pendampinya.