[IGI] Andaikan Saya Manusia Merdeka [Re: Timor Leste]
Dari: darjatmoko@*.com
Kpd: ikatanguruindonesia@yahoogroups.com
Tanggal: 27 Desember 2013, 13.16
Catatan:
Pada tahun 1913 seorang nasionalis Indonesia Soewardi Soeryaningrat (alias Ki Hadjar Dewantoro) membuat gempar di negeri Belanda dengan tulisannya 'Als ik een Nederlander was' (Andaikan saya seorang Belanda). Artikel bersejarah ini “meledek” sentimen nasionalis Belanda ketika mereka merayakan seratus tahun kemerdekaan dari penjajahan Perancis (jaman Napoleon). Dengan alasan yang sama Ki Hadjar Dewantoro berkilah bahwa, seperti bangsa Belanda, Indonesia pun punya aspirasi yang sah untuk merdeka. Pada artikel dibawah yang pada aknhir 1992 dikirim kepada jurnal “Inside Indonesia” seorang nasionalis Timor Leste (anonymous) meminjam argumen dan gaya-bahasa Soewardi Soeryaningrat menghimbau rakyat Indonesian untuk memahami aspirasi rakyat Timor Leste, yang seperti halnya rakyat Indonesia, juga mendambakan kemerdekannnya. [Versi bahasa Inggris yang lebih ringkas kemudian dimuat dalam edisi berikutnya]. – Moko/
Andaikan Saya Manusia Merdeka
Oleh: Hidup Kembali Soewardi Soeryaningrat*
Lonceng gereja berbunyi di seluruh tanah Maubere. Di setiap jalan kota bendera dan rumbai-rumbai berwarna warna dipasang. Gedung kantor gubernur dan pos militer temboknya dicat dan berulang-ulang dibersihkan. Halaman rumah-rumah penduduk diharuskan memasang bendera merah putih. Terlihat kesibukan oleh ibu-ibu dharma wanita menyiapkan perayaan. Ada juga dibikin panggung terbuka untuk pertunjukan musik, tari dan drama pada malam hari. Disiang harinya ada lomba olahraga dari tingkat desa sampai kota dari bermacam-macam jenis olahraga, dimana pemenangnya berhak mendapatkan hadiah. Seru! Dan ramai sekali. Menurut laporan yang ditulis di surat kabar, kesibukan itu semua dilangsungkan untuk menyambut perayaan pembebasan Indonesia merdeka. Bulan Agustus tepatnya tanggal 17, bangsa Indonesia merdeka menjadi negara republik kesatuan. Merdeka berarti tidak dijajah bangsa lain dan kedudukan bangsa Indonesia berdiri sejajar dengan bangsa lain. Terhadap bangsa Eropa, Amerika, Afrika maupun negara Asia lainnya. Dengan kemerdekaan itu bangsa Indonesia sekarang bebas bergaul dengan masyarakat internasional tanpa hambatan.
Menurut lembaran sejarah Yang ditulis oleh ahli dari Belanda maupun beberapa akademisi dari Australia, bangsa Indonesia pernah dijajah oleh kolonialis Belanda selama 3,5 abad dan diteruskan oleh penjajahan Jepang selama 3,5 tahun. Praktek penjajahan yang sulit dilupakan oleh bangsa Indonesia, mulai dari tindak kekejaman terhadap rakyat Indonesia maupun perampasan harta rakyat. Contoh kongkrit bisa dilacak lewat bukti lembaran sejarah, pembantaian bangsa Banda pada tgl 8 Mei 1621 hampir menelan seluruh jumlah penduduk pulau Banda sebanyak 14.000 orang. (Indonesian Banda Colonialism and its aftermath in the nutmeg island, Dr Willard A. Hanna) penduduk asli Banda tak tersisa. Tingkat kematian akibat pembangunan jalan dari Anyer sampai Panarukan oleh Daendels tahun (1808-1811) berlanjut sampai pembantaian oleh kapten Raymond 'Turk' Westerling di kepulauan Sulawesi Selatan pada bulan Pebuari 1947 sedikitnya 3000 rakyat yang ingin bersimpati terhadap republik Indonesia merdeka telah ditembak mati dengan keji. (A History of Modern Indonesia, M. C. Ricklefs, Monash University 1981).
Hal lain tentang perampasan harta penduduk tidak sedikit jumlahnya setiap tahun hampir 500.000.000 pounds keuntungan rakyat yang diangkut oleh Belanda. (Publicatie Volkenbond: Memorandum on balance of payments an foreign trade balance 1911-1925, Geneva 1925, Van Gelderen, Voorlezing, p.103) Masa peralihan kolonialisme Belanda ke Jepang tidak banyak berubah dari praktek pembantaian manusia sampai perampasan harta penduduk. Sebuah perayaan yang bermakna tentunya kalau bangsa Indonesia sekarang ini menjadi bangsa yang merdeka. Saya sangat menghormati hari yang bermakna ini seperti banyak orang Indonesia. Sebab sebenarnya dimana letak bahagianya sebagai manusia yang masih tertindas oleh penjajahan itu? Tidak ada sesuatu halangan bagi saya untuk merasakan kegemilangan semangat kepahlawanan untuk turut merayakan hari pembebasan seperti sekarang ini. Seperti banyak orang-orang Indonesia nasionalis yang mencintai tanah airnya, saya pun mencintai tanah air saya bahkan lebih dari pada yang terungkapkan dalam sebuah kata-kata semata.
Betapa gembira, dan sorak-sorainya jika mampu merayakan suatu hari nasional yang penting seperti itu! Saya ingin menjadi seorang merdeka, bukan nama tapi makna dari arti sebuah kemerdekaan bagi manusia yang tidak bisa dipalsukan dari negara kesatuan Indonesia, yang bebas dari setiap penindasan bangsa asing. Betapa gembira dan sorak-sorainya perasaan saya nanti pada bulan Agustus, hari yang telah lama dinanti-nantikan itu. Hari perayaan kemerdekaan. Betapa leganya hati saya nanti melihat bendera dwi warna dengan batas merah berkibar. Suara saya akan menjadi serak karena menyanyikan “Indonesia Raya” sesaat musik mengema. Saya akan bangga atas manifestasi itu, saya akan bersyukur kepada Alloh SWT dalam masjid-masjid karena kemurahannya, saya akan berdoa demi keselamatan orang-orang Indonesia, termasuk mereka yang sedang berada di daerah pendudukan, supaya kemulian kekuasaan yang maha besar berada tetap dibelakang kita.
Saya akan tetap membayar pajak bukan untuk merayakan hari kemerdekaan melainkan untuk melaksanakan rencana Jenderal Tri Sutrisno dan Jenderal Benny Moerdani untuk menambah jumlah angkatan darat bangsa kita demi melindungi kemerdekaan Indonesia. Saya akan … sesungguhnya tidak tahu lagi apa yang akan saya lakukan jika saya seorang Indonesia, karena saya merasakan akan mampu melakukan apa pun.
Tetapi nyatanya tidak begitu, andaikan saya seorang merdeka pun saya tidak akan mampu melakukan apa pun. Sesungguhnya saya inginkan perayaan kemerdekaan mendatang itu dihormati seluas mungkin, tetapi tidak akan saya ijinkan penduduk negeri pendudukan mengikuti perayaan itu. Saya akan mengekang keinginan mereka untuk ke pesta ria, bahkan saya lebih suka perayaan itu tertutup bagi mereka supaya tak seorang pun dari pribumi Maubere mampu melihat kebahagiaan kita sewaktu kita merayakan kemerdekaan itu. Menurut pendapat saya, ada suatu yang tidak pada tempatnya. Suatu yang tidak senonoh jika kita mengharuskan pribumi Maubere itu mengikuti pesta-pesta perayaan kemerdekaan kita. Pertama, kita akan melukai perasaan mereka yang peka. Sebab sementara kita merayakan kemerdekaan kaki kita menginjak.kemerdekaan orang lain dan menduduki daerah orang lain. Memang pada saat itu kita sedang merasakan bahagia karena empatpuluh tujuh tahun lalu kita membebaskan diri dari kekuasaan asing dan semua ini terjadi dihadapan mata mereka yang masih berada dibawah kekuasaan kita. Tidakkah terasa oleh kita bahwa makhluk-makhluk yang malang ini juga sedang merindukan saat seperti ini, kapan mereka seperti kita, akan mampu merayakan kemerdekaan mereka? Atau barangkali apakah kita merasa bahwa karena kebijaksanaan menipu diri sendiri? Karena betapa primitifnya pun suatu masyarakat, ia tetap menentang penindasan. Maka jika saya orang yang merdeka, saya akan mengekang perayaan kemerdekaan di suatu negeri dimana kemerdekaan rakyatnya telah dirampas. Dengan pertimbangan ini, bukan hanya tidak adil melainkan juga salah, memerintahkan perlu membayar pajak untuk kelangsungan kemerdekaan negara kita. Dalam gagasan mempersiapkan peringatan kemerdekaan itu saja sudah cukup menghina mereka dan sekarang kita bahkan merampok isi kantong mereka. Sesungguhnya itu adalah penghinaan secara moral dan material.
Dimanakah sebenarnya letak keuntungan kita menyelenggarakan peringatan perayaan itu di tanah Maubere? Jika peringatan itu merupakan pernyataan kebahagiaan bangsa Indonesia, tidaklah bijaksana bahwa perayaan kemerdekaan itu harus dirayakan di negeri yang terjajah. Akan terjadi perlawanan satu lawan satu di tengah masyarakat itu. Atau apakah kita ingin menyombongkan kekuasaan dalam suatu pengertian politik? Terutama dalam masa sekarang ini rakyat Maubere sedang giat mengorganisasikan diri mereka, masih terluka sebab menerima konsekwensi dari kesadaran mereka, berdasarkan taktik maka tidak pantas memberi contoh tentang bagaimana seharusnya merayakan kemerdekaan mereka. Harapan-harapan mereka sedang terbangkitkan kembali, secara tidak sadar kita membangunkan keinginan-keinginan dan cita-cita mulia mereka untuk kemerdekaan di masa mendatang. Tanpa sengaja kita tengah berseru kepada mereka “Lihat kami merayakan kemerdekaan kami. Kami cinta kemerdekaan sesungguhnya adalah kebahagian dan hak setiap bangsa, maka rakyat perlu merdeka, bebas dari segala macam penindasan”. Apabila bulan Agustus tahun ini telah berlalu, kolonialisme Indonesia telah melaksanakan suatu kebijaksanaan yang tidak bertanggung jawab. Saya tidak mau melaksanakan tanggung jawab untuk merayakan kemerdekaan meskipun sekiranya saya orang yang merdeka.
Jika saya seorang yang merdeka pada waktu ini, saya akan melakukan suatu protes terhadap keinginan menyelenggarakan suatu perayaan. Saya akan menulis dalam setiap surat kabar, mengumumkan bahwa keinginan seperti itu adalah salah. Daya akan memperingatkan pada semua teman saya sesama kolonialis tentang bahayanya menyelenggarakan perayaan kemerdekaan pada waktu ini. Saya akan menasihati semua orang Indonesia supaya jangan melukai perasaan rakyat Maubere yang telah mulai berani mengingkari kita dan yang sebenarnya dapat berbuat demikian.
Sesunguhnya saya akan memprotes sekeras-kerasnya sebagai mana kekuasaan membenarkan saya.
Tetapi saya bukan seorang yang merdeka, saya hanya seorang pribumi jajahan dari bumi Timor-Timur, seorang yang didera hukum kolonialisme Indonesia tiap hari, oleh karenanya saya tidak punya kekuatan lagi memprotes.
Karena jika saya benar-benar memprotes, pemerintah akan marah kepada saya, mereka akan menganggap saya sebagai menghina Indonesia yang sekarang memerintah negeri saya. Itu sebabnya saya tidak mau, tidak boleh saya lakukan lagi. Jika saya seorang merdeka dan bangsa Indonesia bukankah saya akan menghindarkan juga untuk melukai perasaan rakyat Maubere? Mereka juga akan menganggap saya telah bertingkah laku tidak senonoh terhadap Paduka Yang Mulia Presiden, Presiden Yang Terhormat, dan tindakan seperti itu tidak dapat dimaafkan karena saya adalah seorang pribumi dari jajahannya dan yang mesti selalu setia kepadanya.
Karena ini saya tidak akan memprotes. Sebaiknya saya akan mengikuti perayaan-perayaan itu. Apabila uang beban pajak sudah hampir semuanya dikumpulkan, saya akan memberikan pada petugas pajak, meskipun hal itu berarti menyita setengah biaya hidup saya. Adalah tugas saya sebagai seorang pribumi dari negeri jajahan ini mengikuti perayaan-perayaan kemerdekaan negeri Indonesia itu, tanah air penjajah saya. Saya akan menasihati rakyat saya dan orang-orang lain sesama warga negara republik Indonesia supaya mengikuti perayaan itu, karena meskipun peringatan ini adalah suatu perayaan yang berciri Indonesia, adalah suatu kesempatan yang baik bagi kita memperlihatkan kesetiaan kepada republik Indonesia.
Betapa bahagianya saya. Syukurlah saya bukanlah orang merdeka dan bangsa Indonesia.
Baik, saya mulai muak dengan kata sindiran ini dan saya akan mengesampingkan semua sindirin pada permulaan artikel ini. Dan saya ingin menyatakan bahwa gagasan perayaan 47 tahun kemerdekaan Indonesia yang sedang giatnya disebarkan adalah peristiwa bagi Indonesia untuk memperlihatkan kesetian terhadap tanah air mereka.
Apa yang melukai perasaan saya dan perasaan orang-orang senegeri saya adalah terutama gagasan supaya orang-orang pribumi harus membiayai pekerjaan-pekerjaan yang keuntungan-keuntungannya mereka sendiri tidak turut kebagian. Apakah keuntungannya bagi saya, perayaan yang kami turut membantu penyelenggaraanya? Sedikit pun tidak. Paling hanya mengingatkan kami bahwa kami bukanlah rakyat merdeka dan bahkan “Indonesia tidak memberikan kemerdekaan kepada kami”. Paling tidak selama Tuan Theo Syafei memerintah negeri ini.
Dengan demikian, betapa pun nampaknya dari peringatan untuk merayakan kemerdekaan, bahwa adalah suatu tugas bagi setiap orang memperingati kemerdekaan rakyat mereka.
Karena itu saya merasa lebih tertarik pada gagasan kemerdekaan dalam bentuk yang nyata bukan hal yang semu. Seperti pembukaan dalam UUD (Undang-Undang Dasar) negara republik indonesia tahun 1945 yang sangat sakral “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak semua bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusian dan peri-keadilan.” (UUD 45, Penerbit Indah Surabaya) bukankah menunjukkan pendiri republik Indonesia sangat menghormati kemerdekaan semua bangsa.
Kami rakyat Maubere telah merdeka berbentuk negara republik Demokrasi Timor Timur pada tanggal 7 Oktober 1975 telah menjalankan roda pemerintahan berarti rakyat Timor merdeka penuh dari kolonialis asing dengan ibu kota di Dili. Tetapi tiba-tiba tgl 15 Juli 1976 Timor Timur diklaim menjadi bagian dari daerah Indonesia tanpa mengindahkan kemerdekaan dari kedaulatan rakyat Timor Timur. (Analisa satu dasawarsa Timor Timur, diterbitkan: Centre For Strategic and Internasional Studies (CSIS), Nopember 1986, Jakarta).
Jadi sangat sulit bagi saya untuk percaya pada sebuah pemerintahan yang hanya dilandasi slogan-slogan manifestasi yang bagaimana pun indahnya sampai sakral dikatakannya tanpa pertimbangan nurani kemanusiaan dan keadilan serta hak hidup bangsa lain. Seperti kemerdekaan rakyat Maubere yang sekarang terampas.
Saya sadar dan rakyat di Maubere pun telah mengenal siapa pemerintahan Indonesia itu sebenarnya. Tak ada bedanya dengan kolonialis dunia lainnya. Militer Indonesia pun tangannya menumpahkan darah di bumi Maubere. Kalau Belanda menjajah Indonesia menjagal manusia indonesia lewat J.P. Coen, Daendels, sampai Westerling memakan korban nyawa, sekarang militer Indonesia purl tidak kurang-kurangnya membunuhi rakyat Maubere. Di tahun 1985 Amnesti Internasional yang berkedudukan di London melaporkan, diperkirakan 200.000 rakyat Timor Timur telah terbunuh oleh tentara pendudukan Indonesia selama 16 tahun menguasai Timor Timur. Dan tindak teror setiap saat dan jam terus dijalankan seolah kami binatang yang membahayakan bagi sebuah negara besar seperti Indonesia ini. Terbukti setiap usulan akan kemerdekaan oleh rakyat kami selalu dianggap subversif dan seenaknya para pejabat Indonesia menindak keras usulan kami. Peristiwa arak-arakan di pemakaman Santa Cruz memperlihatkan, wajah sang kolonial Indonesia sebenarnya. Dimana rakyat tak berdaya selalu diintimidasi bahkan dibunuhi seperti nyawa manusia tak ada artinya. Peristiwa 12 Nopember 1991 di Santa Cruz adalah budaya kebiadaban yang disandang oleh kolonialisme Indonesia seolah yang dihadapi adalah sosok manusia yang tidak punya hak hidup.
Dengan tanpa bersalah para militer Indonesia menimpakan penyebab peristiwa itu pada rakyat kami. Bahkan diantara kami yang muda dan tahu peradaban dunia telah memprotes tindakan brutal itu malah dituduh melakukan sebuah kerusuhan di sebuah negeri yang menghormati kemerdekaan ini. Para militer Indonesia yang jelas-jelas membunuh dengan brutalnya pada bangsa kami hanya dijatuhi hukuman tak lebih dari 10 bulan sedang kami yang menderita diinjak-injak kemerdekaan dan martabat kami sebagai manusia malah dijatuhi hukuman seumur hidup. Betapa saya baru mengerti hukum kolonial Indonesia yang kedengarannya memuja perdamaian dan kemerdekaan serta keadilan itu nyatanya tidak pernah berlaku hormat terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.
Jelaslah bagi saya sekarang ini bangsa yang memulyakan kemerdekaannya lewat UUD 45 dan falsafah Pancasilanya tak lebih dari gerombolan perompak di lautan Timor. Sejak awal perjuangan kemerdekaan sewaktu terjadi perundingan penentuan hari depan bangsa kami, pemerintah Indonesia tidak pernah simpati pada pembebasan rakyat Timor Timur yang sejati. Secara jelas pernyataan Adam Malik Menlu Indonesia waktu itu pada bulan Juni 1974 menyatakan dukungannya berdirinya Timor Portugis bukan kemerdekaan penuh bagi rakyat Timor Timur yang diperintah oleh pribumi Timor dijalankan oleh rakyat Timor Timur. (J. Stephen Hoadley, The future of Portuguese Timor, Singapore; The Institute of Southeast Asian Studies, 1975, Hl.16, Lihat juga Sinar Harapan, 27 Juli 1974).
Memperlihatkan hal yang sebenarnya pendirian Indonesia yang munafik sebab keadaannya sekarang jadi berbalik dan sikap Indonesia tidak pernah setuju berdirinya kemerdekaan penuh rakyat Timor Timur. Sewaktu misi Indonesia ke Portugal yang dipimpin oleh Letjen Ali Murtopo dengan delegasi Portugal seperti Vasco Goncalves Indonesia secara jelas mengemukakan pendapatnya tentang proses kemerdekaan bagi rakyat Timor Timur yakni; Merdeka dibawah naungan Portugal, Menggabungkan dengan Indonesia, Atau Merdeka penuh.
Dan secara jelas pejabat Indonesia tidak setuju dengan alternatif ketiga. (Merdeka secara penuh). Bahkan para pejabat sampai Presiden Indonesia mengatakan; adalah kemungkinan yang 'paling kecil' dengan alasan. Rakyat Timor Timur belum mempunyai tenaga terdidik untuk membentuk pemerintahan yang capable; Kedua, Nasional resources' yang dipunyai tidak memadai bagi jaminan berdirinya sebuah negara yang bebas, merdeka dan berdaulat (Analisa satu dasawarsa Timor Timur, oleh J. Kristiadi, CSIS Jakarta Nopember 1986).
Betapa sombong dan congkaknya pernyataan pemerintah Indonesia ini, saya jadi teringat hujatan tuan-tuan Belanda pada para budaknya bangsa Indonesia. Sekarang hujatan tuan Belanda itulah yang dipakai oleh si budak pemerintah Indonesia yang sekarang menjadi tuan kepada kami rakyat di Maubere. Pemerintah Indonesia sebagai budak bangsa Belanda memang sekarang menjadi budak yang mewarisi sifat tuannya. Sampai dia sendiri lupa bahwa bangunan nasionalisme Indonesia itu pun lahir dari rekayasa politik etis Belanda. Tanpa politik etis bangsa Indonesia masih merangkak-rangkak seperti binatang yang melata. Bagaimana bisa seorang yang pernah luka oleh sebuah penindasan sekarang mempraktekan penindasan pada bangsa lain! Kalau pemerintah Indonesia sudah merasa mempunyai nasional resources' tentu mempunyai peradaban cinta perdamaian dan kemerdekaan serta keadilan, kenapa sampai sekarang tidak pernah malu membunuhi rakyat Maubere tanpa ada pertanggung jawaban pada hukum dan moral sebagai bagian peradaban manusia modern. Apakah semangat nasionalisme bangsa Indonesia itu tidak pernah lahir atas landasan pertimbangan keadilan dan kemanusiaan? Kenapa sampai sekarang militer Indonesia terus berdiam dan menghuni rumah dan hak rakyat kami? Rakyat kami terus tercengang ketika pemerintah Indonesia terus mengangkuti kekayaan kami yang terkandung sebesar 5 Milyard barel minyak bumi dan cadangan gas alam sebesar 50.000 milyar kaki kubik. Yang semuanya mempunyai nilai investasi sebesar US $ 261,72 Milyard diangkut para perampok Indonesia dan kapitalis barat lainnya (Richardson, Timor Gap Riff Remains, FEER, April 1984. Lihat Mark J. Valencia and St. Munadjat Danusaputra, “Indonesia: Law of the Sea and Foreign Policy Issues,” 1984).
Padahal tiap hari rakyat Maubere hanya menerima imbalan hardikan dan pembunuhan dan tuduhan subversif sesuai dengan peraturan pemerintah Indonesia yang secara jelas tak pernah dirundingkan dengan rakyat kami. UU no 11 PNPS/1963 yang dibikin oleh pejabat Indonesia yang sejak lahirnya tidak pernah kami ketahui prosesnya. Sampai-sampai kami bertanya, jadi mempertanyakan hak pribadi atau menuntut hak rakyat pun mengalami kontra subversif. Apakah kenyataan ini mengharuskan saya meyakini sebuah keadilan yang prosesnya tidak pernah bisa kami terima secara rasional baik lewat pertimbangan hukum dan moral mana pun. Apakah saya terus meyakini keadilan yang terus dipaksakan oleh pemerintah Indonesia sekarang ini? Kami dibuat miskin dan dirampas hak hidup kami, tetapi masih diharuskan mengatakan Indonesia negara republik yang berperi-keadilan dan berperikemanusian. Memegang azas kemerdekaan saja tidak konsekwen apalagi menjalankan dalam praktek hidupnya, yang sampai sekarang belum konsekwen dijalankan.
Sebenarnya saya sadar gagasan perayaan kemerdekaan di tanah Timor Timur tidaklah banyak artinya. Sebab sesungguhnya jika saya orang yang sudah merdeka saya tidak akan pernah merayakan peringatan kemerdekaan di sebuah negeri yang masih sedang dijajah. Pertama-tama saya akan memberikan rakyat yang terlanjur kita jajah itu kemerdekaan baru kita bisa merayakan kemerdekaan kita secara konsekwen.
*Disitir dari :
'Als ik een Nederlander was'. De Express, 19 Juli 1913. Soewardi Soeryaningrat.