Hari Pemuda

Perlu Hadirkan Visi Bersama

“Berikan aku 10 anak muda dan akan aku guncang dunia.” Soekarno, Presiden RI-1.

Kalimat Bung Karno ini masih menyihir kita betapa penting peran strategis pemuda. Para pemuda bertekad menjadikan benua maritim ini sebagai negara bernama Indonesia. Bertanah air satu, tumpah darah Indonesia. Berbangsa satu, bangsa Indonesia. Berbahasa satu bahasa Indonesia.

Inilah kekuatan rakyat Indonesia. Anugerah terbesar bangsa ini. Negara archipelago yang besarnya sama dengan 27 negara-negara Eropa atau 50 negara bagian Amerika berhasil disatukan tanpa perang etnis.

Berapa banyak suku bangsa di negeri ini dan kita bisa mengatakan “Berbangsa satu bangsa Indonesia.” Berapa ribu bahasa yang digunakan setiap suku bangsa di negeri kepulauan ini dan para pemuda berhasil menyatukannya,“Berbahasa satu bahasa Indonesia.”

Seluruh pewaris kerajaan, pemilik sah tanah dan wilayah Republik Indonesia, langsung menerima nyaris tanpa gejolak. Tanpa pertikaian. Tanpa saling membunuh.

Betapa dahsyatnya kekuatan pemuda. Mereka bersatu menciptakan visi perjuangan yang mewakili harapan dan keinginan seluruh suku bangsa sebagai Bangsa Indonesia. Yang bersuku Jawa tak bertikai dengan suku Batak. Juga suku Sunda tak saling menisbikan dengan suku Ambon.

Kita melihat tanah tumpah darah setiap suku bangsa di negeri tropis ini bersatu, mengikatkan diri, merekatkan dan menguatkan satu dengan lainnya menjadi satu kesatuan ideologi, visi, dan misi bersama.

Sekali lagi, para pemuda berhasil merumuskan satu kesatuan visi kebangsaan untuk seluruh elemen rakyat. Satu visi ini yang kemudian diturunkan menjadi satu kesatuan cita-cita dan tujuan serta aksi bersama.

Satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa berhasil diwujudkan jika ada kemerdekaan. Merdeka adalah jembatan emas bagi perwujudan visi. Kemerdekaan harus diraih. Jargon pun dibuat untuk mengingatkan kita semua, seluruh pejuang dan segenab bangsa Indonesia: Merdeka atau Mati.

Jika kemerdekaan tak pernah hadir, sejatinya visi keindonesiaan, satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia, akan menemui ajal. Maka, perjuangan kemerdekaan harus terus dilakukan agar visi itu tidak mati dan hilang.

Sekarang kita seolah kehilangan visi besar bangsa ini. Para calon pemimpin bangsa di masa depan juga seolah kehilangan visi keindonesiaan. Akibatnya bangsa ini kehilangan tujuan. Kita juga kehilangan cita-cita dan harapan.

Itu semua tercermin dari visi para capres yang akan berkompetisi memimpin kekuasaan dalam pemilu 2014. Para capres belum satu visi dalam memandang keindonesiaan.

Seperti pelangi, visi para capres ini berwarna warni, tidak fokus, dan tidak menggambarkan derap langkah bersama, bersatu, menuju keindonesiaan seperti yang dicita-citakan para pemuda.

Pemerintah sekarang mengusung “Bersama Kita Bisa.” Capres Gerindra Prabowo Subianto membawa visi “Indonesia Raya.” Capres Nasdem “Restorasi Indonesia.” Dahlan Iskan membawa visi “Kerja Kerja Demi Indonesia.” Capres Demokrat Anies Baswedan (dalam konvensi) membawa visi “Indonesia Kita Semua.”

Capres PDIP (meski belum diresmikan) Jokowi entah visinya apa. Yang terdengar hanya “blusukan, masuk gorong-gorong, bagi-bagi buku tulis, atau selalu ngomel “copras, capres, copras capres, nggak ngurus.” Akibatnya, saking jengkelnya pada kemacetan, Warga DKI Jakarta akhirnya juga meniru Jokowi. “Mocat, macet, mocat, macet, nggak kau urus!!”

Soekarno meletakkan visi para pemuda dengan mati-matian menghadirkan jembatan emas kemerdekaan. Soeharto melakukan apa saja demi visi pembangunan. Habibie dan Gus Dur berkorban demi visi kebebasan dan antidiskriminasi. Megawati dan SBY alpa menuliskan visi keindonesiaannya. Sebab, “Bersama Kita Bisa” bukanlah common vision bangsa ini. Visi bersama kita bisa bahkan diplesetkan menjadi “bersama kita bisa korupsi berjamaah.”

Rupanya ketidakhadiran visi itu bakal berlanjut pada capres dalam pemilu 2014. Kita kehilangan visi seperti yang ditunjukkan dalam visi sumpah pemuda 28 Oktober 1928: bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu: Indonesia.

Hilangnya visi melenyapkan tujuan, cita-cita dan harapan segenap bangsa ini. Ketika tujuan untuk apa Indonesia, berubah menjadi Indonesia untuk siapa. Semboyan perjuangan bangsa kita “merdeka atau mati” berubah menjadi “merdeka untuk apa” dan “mati demi siapa.”

Semua harapan menjadi kegelisahan dan berujung pada apatisme. Ketidakpercayaan membuncah di mana-mana. Visi keindonesiaan terkikis oleh visi kekuasaan “Indonesia untuk siapa.” Misi kemerdekaan tergerus oleh misi ketidakberdayaan dan kemiskinan “merdeka untuk apa.” Tujuan dan cita-cita kemerdekaan hanya dimaknai sebagai perebutan harta kekayaan dan kanalisasi pragmatisme pengorbanan “mati demi siapa.”

Sumpah Pemuda hari ini menyadarkan kita untuk menciptakan common vision. Visi sebagai negara yang “bertanah air satu tumpah darah Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia, dan berhasa satu bahasa Indonesia.” Mau dibawa ke mana Indonesia, 100 tahun nanti di usia kemerdekaannya?

Bangsa ini memerlukan visi besar bersama-sama (common vision) agar siapapun yang berkuasa kelak, pemerintahan dapat melaksanakan tahap demi tahap perbaikan untuk meraih visi melalui tujuan dan program-program kerja.

Saatnya kita menanggalkan semboyan perjuangan kemerdekaan 45: merdeka atau mati. Indonesia sudah ada, resmi dan berdaulat sebagai negara. Kemerdekaan adalah jembatan emasnya. Tujuan dan cita-cita kemerdekaanlah yang harus terus diperjuangkan untuk melunasi janji kemerdekaan.

Indonesia sudah merdeka. Indonesia tidak boleh mati. Jargon kita tidak boleh lagi ada kata mati. Kita harus hidup. Indonesia harus hidup. “Hidup Indonesia!!” (Heru B. Arifin, Sekjen Ormas Tunas Republik)

REVOLUSI PUTIH: Mengganyang Kebodohan, Mencerdaskan Bangsa

Sumber : http://groups.yahoo.com/neo/groups/ikatanguruindonesia/conversations/topics/76407

  • kliping/Hari.Pemuda
  • Terakhir diubah: 5 tahun yang lalu
  • oleh 127.0.0.1